Situs Resmi Yayasan karya Cipta Sukuraga

Artikel Pertunjukan

PUISI dan WAYANG SUKURAGA

Oleh : Asrizal Nur

Pembacaan Puisi adalah salah satu ekspresi kebudayaan Indonesia yang memiliki kekayaan tradisi dalam pembacaanya, hal ini tak terlepas dari kontribusi kebudayaan asli Indonesia yang telah menyumbangkan tradisi pembacaan puisi lama seperti : Mantra, Syair, Pantun, Gurindam dan senandung , menjadi kekayaan dalam perkembangan pembacaan puisi di Indonesia.

Kekayaan pembacaan puisi tersebut menjadi kekayaan pembacaan puisi dunia, yang tidak dimiliki dalam tradisi membaca puisi di Eropa, Amerika, Australia dan Afrika.

Kekayaanpembacaan puisi tersebut diramu dan diolah kembali dengan inovasi dan kemampuan membaca puisi atraktif oleh seorang penyair Melayu: Asrizal Nur.

Begitupun kesenian wayang, sudah mengakar dalam perkembangan kebudayaan Indonesia, sesuai dengan perkembangan wayangpun mengalami inovasi sebagai upaya mendekatkan dirinya ke masyarakat, tidak saja Jawa, Sunda bahkan masyarakat seluruh Indonesia dengan pendekatan bahasa persatuan.

Inovasi wayang tersebutlah yang dilakukan oleh seorang pelukis bernama Efendi yang menciptakan bentuk wayang baru  diberi nama Wayang Suku Pembacaan Puisi adalah salah satu ekspresi kebudayaan Indonesia yang memiliki kekayaan tradisi dalam pembacaanya, hal ini tak terlepas dari kontribusi kebudayaan asli Indonesia yang telah menyumbangkan tradisi pembacaan puisi lama seperti : Mantra, Syair, Pantun, Gurindam dan senandung , menjadi kekayaan dalam perkembangan pembacaan puisi di Indonesia.

Kekayaan pembacaan puisi tersebut menjadi kekayaan pembacaan puisi dunia, yang tidak dimiliki dalam tradisi membaca puisi di Eropa, Amerika, Australia dan Afrika.

Kekayaanpembacaan puisi tersebut diramu dan diolah kembali dengan inovasi dan kemampuan membaca puisi atraktif oleh seorang penyair Melayu: Asrizal Nur.

Begitupun kesenian wayang, sudah mengakar dalam perkembangan kebudayaan Indonesia, sesuai dengan perkembangan wayangpun mengalami inovasi sebagai upaya mendekatkan dirinya ke masyarakat, tidak saja Jawa, Sunda bahkan masyarakat seluruh Indonesia dengan pendekatan bahasa persatuan.

Inovasi wayang tersebutlah yang dilakukan oleh seorang pelukis bernama Efendi yang menciptakan bentuk wayang baru  diberi nama Wayang Suku Raga.

KONSER PUISI DAN WAYANG

Apa hubungan puisi dan wayang Sukuraga?, Wayang Sukuraga yang diciptakan oleh Effendi memiliki hubungan proses kreatifitas yang sama dengan puisi, sama lahir dari proses imaginative, memiliki kekuatan  symbol. Bedanya bila puisi menggunakan media kata-kata, namun wayang sukuraga menggunakan media seni rupa.

Ini agaknya baru pertama di Indonesia, kolaborasi antara pembacaan puisi dan pementasan wayang dengan tema yang sama. Konser Puisi dan Wayang ini diberinama judul : Konser Puisi dan Wayang : SUKURAGA oleh Asrizal Nur dan Fendy. Wayang sudah jadi adanya dengan symbol raga manusia kemudian puisi-puisi dibacakan juga berhubungan dengan “raga” maka klop menjadi pertunjukan yang senergi dan saling menguatkan untuk sebuah pertunjukan.

 

INOVATIF, KREATIF DAN SPEKTAKULER

Konser Puisi dan Wayang : Sukuraga, akan ditampilkan secara spektakuler dengan sentuhan inovasi yang kreatif, menggunakan tekhnolgi audiovisual Video Mapping yang belum pernah digunakan baik untuk pertunjukan puisi maupun wayang. Diperkuat juga dengan garapan musik techno dan musik  live serta penampilan tari, lagu yang membuat Konser Puisi & Wayang menjadi pertunjukan yang bukan biasa.

WAYANG SUKURAGA KEKAYAAN BUDAYA INDONESIA DARI SUKABUMI

Konser Puisi Wayang Sukuraga ini mengukuhkan Wayang Suku Raga sebaga kekayaan kreatif milik Indonesia dari Sukabumi. Wayang Sukuraga satu-satunya wayang di dunia yang dimiliki Sukabumi-Indonesia, oleh karena itu, Wayang Sukuraga kelak akan menjadi kebanggaan Sukabumi serta khas Sukabumi yang dikenal dunia.

___________________________________________________________________________________________

___________________________________________________________________________________________

Simbol Pertunjukan Wayang Sukuraga

oleh : Achmad Dayari

Wayang adalah salah satu seni pertunjukan teater tradisonal di Indonesia yang sangat tua dan tidak dapat ditelusuri bagaimana asal mulanya dalam menyelusuri sejak kapan ada pertunjukan wayang di Jawa, bisa ditemukan di dalam berbagai prasasti pada jaman raja Jawa antara lain pada masa Raja Balitung, pada masa pemerintahan raja Balitung telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang seperti yang terdapat pada prasasti balitung dengan tahun 907 Masehi. Prasasti tersebut mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang

Petunjuk semacam itu juga ditemukan dalam sebuah kakawihan arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, pada masa raja Airlangga dalam abad ke 11. Maka dari itu pertunjukan wayang dianggap kesenian tradisi yang sangat tua, sedangkan pada masa itu pertunjukan wayang belum jelas tergambar model pementasannya

Menurut Eko Santoso. Dkk. dalam buku Seni Teater jilid 1 awal mula adanya wayang yaitu saat Prabu Jaya Baya ingin mengabadikan wajah para leluhurnya dalam bentuk gambar yang kemudian dinamakan Wayang Purwa. Prabu Jaya baya berharap bisa mengenang para leluhurnya yang merupakan para dewa atau manusia jaman purba, pada mulainya gambar-gambar itu dilukis dalam Rontal (daun tal) orang sering menyebutnya daun Lontar. Kemudian berkembang menjadi wayang kulit seperti yang kita ketahui sekarang

Pada masa kini kita tidak hanya mengenal wayang kulit, namun kita juga mengenal wayang golek, wayang orang, wayang catur, bahkan dalam perkembangnnya wayang masa kini menjadi beragam hasil pembaharuan oleh para senimanya, seperti di kota Bogor ada wayang Bambu dan wayang Hihid, di Bandung tepatnya di Jurusan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia ada wayang Cyber, dan ada pula wayang Suket yang dipopulerkan oleh Slamet Gundono, serta wayang Sukuraga yang berkembang di daerah Sukabumi, pada dasarnya beberapa bentuk wayang masih menganut pada bentuk wayang kulit yaitu memainkan wayang oleh seorang dalang, dalang tersebutlah yang menjadi membawa cerita disetiap pertunjukannya yang membedakan dari wayang-wayang yang dimodifikasi oleh senimannya pada masa sekarang didominasi oleh bentuk wayangnya dan cerita yang dilakonkan.

Banyak sekali jenis-jenis wayang kontemporer pada masa kini yang berangkat dari disiplin ilmu seni rupa, kita sebut saja Wayang Cyber dan Wayang Sukuraga namun wayang Cyber lebih fokus terhadap bentuk siluet wayang atau dimensi wayang dalam bayangannya yang diciptakan dari sinar OHP yang di pantulkan pada wayangnya sehingga memberikan kesan berbeda dengan wayang-wayang yang lainnya sementara wayang Sukuraga memiliki bentuk yang mirip dengan wayang kulit yang biasanya, namun cerita dan bentuk wayang tersebut sangatlah berbeda, bentuk wayang Sukuraga tercipta dari bentuk-bentuk tubuh manusia yang diproyeksikan menjadi wayang (Boneka)

 

Wayang Sukuraga

 

Wayang sukuraga diciptakan oleh seorang seniman yang bernama Fendi Sukuraga yang berdiam di Jl. Sriwidari no 111 Kota Sukabumi, wayang ini sudah dikembangkan semenjak tahun 1995, bermula dari pameran lukisannya di Institut Teknologi Mara Malaysia (Sekarang UITM) lukisannya yang bertema Sukuraga “Peran-peran” diartikan pelakon oleh apresiastor disana, semenjak saat itu Fendi berpikiran bahwa sukuraga manusia adalah wayang, maka dalam proses kreatifnya Fendi mengalihkan lukisan sukuraganya yang biasa tergambar dalam kanvas ke media kulit dan dibentuk menjadi wayang, wayang-wayang ini bergamabarkan anggota tubuh manusia (Sukuraga) seperti kaki, tangan, mata, hidung dan lain-lain,

Dalam pertunjukan wayang Sukuraga diiringi oleh musik tradisi dan modern seperti alat karawitan : kendang, saron, suling, karinding  dan alat modern seperti : gitar, keyboard, drum, biola. Pertunjukan wayang sukuraga sering dikolaborasikan dengan tarian dan video art, pertunjukan wayang Sukuraga biasanya ditampilkan untuk mengisi acara-acara kedinasan di Kota Sukabumi, atau acara-acara komunitas, namun Sukuraga juga sering mempertunjukan karyanya dalam kegiatan-kegiatan wayang seperti dalam kegiatan Gunungan Internasional Wayang & Pupet Festival 2013 di kota Baru Parahyangan Bandung pada tahun 2013

Lakon wayang Sukuraga biasa dibentuk improvisasi oleh dalangnya yang selalu diperankan oleh Fendi sendiri, lakon-lakonnya berkisar tentang kisah kehidupannya nyata yang terjadi pada masa kini, menyinggung pada masalah sosial, seperti korupsi, gaya hidup masyarakat dan kesenjangan-kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat sebagai apresiatornya. Durasi pertunjukan wayang sukuraga biasanya berkisar dari satu sampai dua jam, dengan didominasi musik yang kuat dalam pertunjukannya, dalang menjadi sutradara sekaligus pelakon tunggal dalam pertunjukan wayang sukurga seperti dalam pertunjukan wayang kulit atau wayang golek biasanya

 

Tokoh Wayang Sukuraga sebagai Simbol

 

Tokoh-tokoh dalam wayang Sukuraga adalah bagian bagian dari tubuh manusia atau Fendi menyebutnya tubuh Sukuraga seperti hidung, mata, telinga dan kaki di tambah dengan gunungan seperti dalam pertunjukan biasanya, gunungan ini menjadi penafsiran sang Sukuraga atau Manusia, tubuh menurut  Fendi adalah bagian yang mampu berucap dan mengejawantahkan segala tindak-tanduknya, setiap bagian dalam tubuh adalah cerminan manusia kelak, seperti dalam ajaran agama Islam, suatu hari nanti tangan, mulut, mata, dan kaki akan mempertanggung jawabkan segala tingkahnya, kemana kaki melangkah, apa yang dilakukan tangan, apa yang diucapkan mulut, apa yang dilihat mata, suatu saat nanti akan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa setelah manusia meninggal dunia dan rohnya menghadap yang Kuasa.

Simbol-simbol yang diaplikasikan dari alat-alat indra manusia di wayang Sukuraga adalah penggambaran tingkah polah manusia, hingga cerita yang dipertunjukanpun adalah percakapan yang terjadi antara pihak-pihak ini, kaki yang becengkrama dengan tangan, kaki dengan mata, dan yang lainnya, tokoh-tokoh ini membicarakan tentang tingkah lakunya sendiri, higga membentuk sebuah cerita, mengenai tubuh itu sendiri,

Bentuk tubuh yang dibentuk dalam Wayang sukuraga tidaklah nyata seperti bentuk utuh atau realis, namun Fendi membentuknya non realis, seperti tokoh hidung atau mata, Fendi menggambarkannya menjadi bentuk yang memiliki kaki dan tangan namun berkepala hidung atau mata ini ditafsirkan oleh Fendi bahwa Sukuraga (Tubuh) mampu menjadi diri sendiri, memiliki kemampuan untuk memimipin dirinya sendiri,

Sukuraga (Tubuh) yang pada hakikatnya dipimpin oleh pikiran digambarkan lain oleh Fendi, seperti dalam cerita-cerita yng di pentaskannya, tokoh-tokoh dalam naskahnya selalu bisa menjadi diri sendiri, menceritakan apa yang dilakukannya, ini adalah interpretasi Fendi, manusia sering bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu, manuasia banyak yang menjadi seperti binatang, bertindak hanya didasari hawa nafsunya, sehingga banyak tindakan kaki, tangan, mulut, hidung dan mata diluar kendali pikirannya, mereka seperti menjadi makhluk yang dipimpin oleh dirinya sendiri, hingga tanpa pikirannya itu anggota sukuraga sering sekali bertikai saling menyalahkan atau saling menuduh, merasa menjadi paling benar, namun adakalnya dalam kisah-kisah yang dipertunjukan Wayang Sukuraga, anggota Sukuraga ini memberikan pengajaran kepada apresiatornya atau Fendi lebih sering menyebutnya berdakwah, tokoh-tokoh dalam wayang ini sering sekali memberikan kesadaran bahwa apa yang dilakukan manusia banyak sekali yang salah, ketika kaki melangkah di wilayah yang salah, mulut berbicara  kasar atau menyakiti hati orang lain, tangan digunakan dengan salah seperti korupsi, mencuri, memegang hal-hal yang tidak baik, hal ini dilakukan Fendi sebagai bentuk berdakwah dalam kesenian, sehingga apresiatornya menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri terlebih dahulu, karena jika seorang manusia mampu memperbaiki dirinya sendiri maka dengan mudah ia akan mampu memperbaiki orang lain, diri sendiri menjadi sentral perbaikian, bukan orang lain, sibuk memperbaiki orang lain tanpa sadar diri sendiri saja masih memiliki banyak kekurangan, kesadaran-keadaran ini sering sekali digambarkan melalui dialog-dialog para tokohnya,

Keresahan-keresahan Fendi yang digambarkan pada tokoh dalam wayang Sukuruga juga tampak dalam warna-warna wayang tersebut, Fendi memberikan warna yang berani pada tokoh-tokohnya seperti kuning, merah dan biru, hampir setiap tokoh memiliki beberapa warna yang melekat di tubuhnya, ini juga menegaskan bahwa Fendi ingin menggambarkan bahwa tokoh-tokoh ini adalah tokoh yang mampu berpendapat, yang biasanya dalam diri manusia yang sesungguhnya anggota sukuraga (tubuh) ini selalu terdiam kecuali mulut yang mampu mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran manusia,  kaki, tangan, telinga, mata adalah anggota bisu yang hanya biasa bergerak atau berlaku sesuai dengan keinginan pikiranya. Warna-warna ini juga memberikan kesan kebingungan tokoh dalam bentuk, atau pembuatnya ingin memberikan kesan bahwa wayang Sukuraga (Boneka) adalah tokoh fiksi yang haya berupa wayang dengan cerita-cerita yang diangkat dari kehidupan manusia.

 

Nama : Achmad Dayari, S.Pd.
Kelahiran : Sukabumi, 1 Oktober 1989
Alamat Rumah : Kp. Nyalindung RT 04 RW 04, Kec. Cicurug, Kab. Sukabumi

https://www.facebook.com/aday.dayari/info

https://www.facebook.com/aday.dayari

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

YAYASAN KARYA CIPTA SUKURAGA 2001