Situs Resmi Yayasan karya Cipta Sukuraga

Pendidikan

Wayang Sukuraga Sebagai Pendidikan Karakter Bangsa

Bukan hanya sekadar pendidikan ilmu pengetahuan, tetapi moral anak bangsa mesti dibangun sejak dini baik secara formal maupun informal secara rasa/moral. Pendidikan pertama seorang anak adalah keluarga—melalui pengamatan pada pola hidup orang rumah anak meniru sebagai modal hidup dia seterusnya. Di pendidikan formal anak selalu dirumitkan dengan hafalan. Perlu disadari bahwa hafalan hanya membuahkan kefasihan, entah dalam ilmu hitung maupun ilmu sosial. Tetapi, mereka tak mampu dalam menangkap gejala dan pola dari permasalahan yang justru terjadi pada kehidupan sehari-harinya. Pendidikan rasa dititikberatkan pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Seni Budaya—itu pun belum maksimal. Pendidikan di sekolah masih berupa hafalan.

Seorang pelukis berinisiatif lewat karyanya Sukuraga untuk mencoba memperbaiki pola pengajaran yang sekadar hafalan. Pendidikan rasa mesti dibangun dan disampaikan di semua kalangan usia. Effendi atau dikenal dengan nama Fendi Sukuraga mengembangkan lagi Kesenian Sukuraganya yang beliau gali sejak tahun 1987 sampai pada tahun 1995. Kemudian Kesenian Sukuraga dapat dipublikasikan setelah melalui tahap pengendapan yang meditatif. Seperti apa kata WS. Rendra dalam puisi Sajak Sebatang Lisong-nya: “apalah arti kesenian bila terpisah dari derita lingkungan, apalah arti berpikir bila terpisah dari kehidupan”. Kesenian Sukuraga secara bentuk dibagi dua jenis, yaitu Wayang Sukuraga dan Kudu Leumpang. Sejak kemunculannya Wayang Sukuraga sudah menjadi buah bibir di kalangan para seniman dikarenakan bentuknya tidak mengacu pada literatur Ramayana atau Mahabarata melainkan tokoh yang ditampilkan adalah anggota-anggota tubuh manusia, seperti: mata, telinga, hidung, mulut, tangan, dan pada kesenian Kudu Leumpang adalah kaki berupa kuda.

Kesenian Sukuraga mulai difokuskan pada ranah pendidikan pada tahun 2000-an karena Fendi Sukuraga selain berkesenian beliau juga mengajar di beberapa sekolah di Sukabumi. Rasanya, perlu adanya media dalam pendidikan karakter yang benar-benar menyentuh serta tidak menjenuhkan anak-anak atau orang dewasa sekalipun. Dengan berbagai perangkat media pembelajaran Fendi Sukuraga berhasil mempraktikannya di depan anak didiknya dan terbukti efektif. Melalui kesenian yang interaktif seperti Kesenian Sukuraga, pola pengajaran pendidikan karakter akan mampu memperhalusnya.

Bentuk dukungan tak surut-surutnya diberikan oleh keluarga, sanak saudara, dan para rekan-rekan. Kesenian Sukuraga harus tetap dikembangkan ke berbagai wahana kebudayaan; entah ke wahana sosial, agama, pendidikan, politik, bahasa, dan lain sebagainya.

               

Mimpi Fendi Sukuraga yang mulai dirintis secara nyata sekarang adalah mendirikan Kampung Sukuraga di tanah kelahirannya Sukabumi. Tidak mungkin kampanye pendidikan karakter ini harus bergereliya ke lembaga-lembaga pendidikan, mengingat efektivitas waktu dan tenaga. Alangkah baiknya jika niatan baik ini bisa dilaksanakan di suatu tempat dimana orang-orang berbondong-bondong meniti langkahnya untuk mencari ilmu serta pencerahan di Kampung Sukuraga. Kedepannya Kampung Sukuraga akan menjadi art space yang dapat memfasilitasi para seniman atau masyarakat luas dalam kegiatan berkesenian, bahkan bisa mengangkat pendapatan daerah dari sektor pariwisata mengingat Kampung Sukuraga sampai saat ini telah banyak didatangi wisatawan mancanegara yang singgah untuk belajar Kesenian Sukuraga.

Di Kampung Sukuraga akan dibangun gedung pementasan, penginapan seni, galeri seni rupa, tempat workshop, kafetari, dan lingkungan pesawahan serta kebun yang masih asri akan menjadi nilai tambah bagi Kampung Sukuraga. Selanjutnya harapan kami setelah berdirinya Kampung Sukuraga maka Kesenian Sukuraga akan semakin mahsyur di dalam negeri dan luar negeri. Dengan begitu pengajaran nilai-nilai sosial-spiritual yang menekankan pada aspek humanis melalui kesenian bisa lebih banyak menyentuh rasa setiap manusia tak mengenal agama, ras, bahasa, semua melebur dalam tatanan hubungan antar-bangsa.

Setelah mendapat Anugerah Inovasi Jawa Barat di tahun 2015 proses pewujudan mimpi-mimpi mulia itu semakin dimudahkan. Karena masyarakat lebih mengenal Kesenian Sukuraga yang selama ini dikenal hanya sepintas namun sekarang semakin banyak dari kalangan akademis mengkaji apa itu Kesenian Sukuraga. Selebihnya, masyarakat semakin akrab dengan Kesenian Sukuraga.

Terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah memberikan amanah kepada Fendi Sukuraga sebagai kreator Kesenian Sukuraga di tahun 2015. Hal tersebut semakin memotivasi Fendi Sukuraga untuk terus berkarya untuk dirinya dan untuk bangsa Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

YAYASAN KARYA CIPTA SUKURAGA 2001